Minggu, 03 Mei 2015

Analisis Jurnal 2

Judul               : PREPARING TEACHERS for CULTURALLY DIVERSE SCHOOLS RESEARCH
                          and THE OVERWHELMING PRESENCE of WHITENESS

Penulis            : Christine E. Sleeter
                          California State University, Monterey Bay

Latar Belakang : Dunia pendidikan sering kali terdiri dari beragam kultur atau golongan berbaur menjadi satu kesatuan, namun sering juga beberapa golongan enggan menggabungkan diri karena alasan budayanya mempunyai strata yang lebih tinggi dibanding golongan yang lain. Oleh sebab itulah penelitian ini dibuat untuk mempersiapkan guru dengan kualifikasi yang baik yang mampu mengajar dan menjadi media penyambung untuk menciptakan persatuan dan kesatuan di antara bermacam-macam golongan. Karena hanya sedikit penelitian yang membahas tentang bagaimana mempersiapkan guru untuk sekolah multikultural. Maka penelitian ini adalah untuk memberikan pencerahan bagaimana untuk mempersiapkan guru yang dibutuhkan oleh beragam budaya yang ada.

Tujuan           : Membantu mempersiapkan guru yang sesuai untuk sekolah multikultural atau sekolah dengan beragam budaya, sehingga masyarakat secara historis terlayani oleh sekolah-sekolah tersebut.

Metode Penelitian      : 1. Metode Studi Kepustakaan
                                      2. Metode Observasi


Hasil Penelitian          : Dalam penelitian ini, inti fokus yang dibahas adalah mempersiapkan guru sebelum memberikan pelayanan pendidikan untuk sekolah multikultural atau sekolah dengan beragam budaya, sehingga masyarakat secara historis terlayani oleh sekolah-sekolah tersebut. Dalam sekolah multicultural dibutuhkan berbagai strategi pendidikan guru sebelum melakukan pelayanan pendidikan termasuk di dalamnya merekrut dan memilih siswa, pengalaman peredaman lintas budaya, kursus pendidikan multicultural, dan restrukturisasi program. Meskipun ada sejumlah penelitian, tapi sangat sedikit yang membahas tentang bagaimana mempersiapkan guru untuk sekolah multikultural.
            Pembahasan mengenai bagaimana mempersiapkan guru untuk sekolah multikultural (beragam budaya) menjadi sangat penting karena terkait dengan peran guru sebagai pendidik dalam sebuah proses pendidikan, yang mana sangat diharapkan mampu menjadi jembatan yang bisa mengakomodasi perbedaan-perbedaan seperti status sosial, etnis, gender dan agama. Dengan demikian dalam masyarakat yang multikultural akan tercipta kepribadian yang cerdas, bijak dan santun dalam menghadapi masalah-masalah keberagaman. Paradigma pendidikan multikultural sangat bermanfaat untuk membangun harmoni sosial di antara keragaman etnik, ras, agama, budaya dan kebutuhan di antara siswa yang satu dengan yang lainnya.
Adapun dalam penelitian yang dilakukan oleh (Sleeter, 1988) menyangkut tentang perbedaan pendidikan dari golongan putih dengan golongan berwarna. Di mana jika dilihat di antara dua golongan tersebut, mahasiswa dari golongan berwarna cenderung membawa atau mempunyai pengalaman yang lebih kaya dan perspektif mengajar yang lebih bagus dibandingkan golongan putih. Sehingga sering terjadi sekat-sekat pemisah di antara kedua golongan tersebut dikarenakan golongan berwarna cenderung menganggap dirinya lebih baik dibandingkan dengan golongan putih. Oleh sebab itulah, dibutuhkan guru yang mampu menjembatani di antara mereka sehingga tidak ada yang merasa lebih rendah dan direndahkan.
Bahkan dari penelitian tersebut diterangkan, sebagian besar siswa dari golongan putih enggan berpartisipasi atau enggan bekerja sama dengan anak-anak dari latar belakang budaya lain, hal ini dikarenakan mereka membawa latar belakang lintas-budaya yang sangat sedikit pengetahuan dan pengalaman (Barry & Lechner, 1995; Larke, 1990; hukum & Lane, 1987). Berbeda dari golongan putih, mahasiswa dari golongan berwarna membawa lebih banyak ragam pengetahuan dasar untuk pendidikan guru. Mahasiswa dari golongan berwarna umumnya lebih berkomitmen untuk mengajar dengan kurikulum akademis yang menantang. Sehingga pendidikan seringkali didominasi oleh golongan berwarna.
Namun agar tidak terjadi kesenjangan di antara golongan tersebut, perlu adanya program guru di lingkungan pendidikan. Setidaknya ada dua program yang bisa diterapkan. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah menyiapkan calon guru yang banyak dari golongan berwarna untuk mengajar pada golongan putih. Hal ini tujuannya untuk menjalin kerjasama dan rasa saling membutuhkan di antara kedua golongan tersebut. Selain itu, dengan program sertifikasi guru bagi calon guru dari golongan berwarna. Strategi lain yang bisa dilakukan adalah merekrut dan memilih mereka yang mempunyai pengalaman, pengetahuan diposisi yang memungkinkan mereka mengajar dengan baik di sekolah dengan ragam budaya, artinya tidak memihak dari golongan manapun. Martin Haberman (1996).
Dengan demikian, guru yang mempunyai profesionalisme mengajar dengan baik sangat dibutuhkan, khususnya mereka yang mampu menyatukan setiab sub-sub kebudayaan yang sangat beraneka ragam. Karena hakikatnya dari ujung dunia timur sampai barat terdiri dari jutaan budaya yang berbeda. Sehingga dibutuhkan sebuah media sebagai pemersatu agar tiap-tiap budaya dapat saling memahami satu sama lain, sehingga tercipta persatuan dan kesatuan di tengah-tengah heterogenitas masyarakat. Bahkan dalam pendidikan saat ini, dalam sitem pembelajarannya juga di masukkan materi tentang masyarakat multicultural yang tujuannya agar siswa memahami bahwa ada bermacam-macam budaya dengan latar belakang dan sudut pandang berbeda yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat global.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...