Judul : PREPARING TEACHERS for CULTURALLY DIVERSE SCHOOLS RESEARCH
and THE OVERWHELMING PRESENCE of WHITENESS
Penulis : Christine E. Sleeter
and THE OVERWHELMING PRESENCE of WHITENESS
Penulis : Christine E. Sleeter
California State University, Monterey Bay
Latar Belakang
: Dunia pendidikan sering kali terdiri dari beragam kultur atau golongan
berbaur menjadi satu kesatuan, namun sering juga beberapa golongan enggan
menggabungkan diri karena alasan budayanya mempunyai strata yang lebih tinggi dibanding
golongan yang lain. Oleh sebab itulah penelitian ini dibuat untuk mempersiapkan
guru dengan kualifikasi yang baik yang mampu mengajar dan menjadi media
penyambung untuk menciptakan persatuan dan kesatuan di antara bermacam-macam
golongan. Karena hanya sedikit penelitian yang membahas tentang bagaimana
mempersiapkan guru untuk sekolah multikultural. Maka penelitian ini adalah
untuk memberikan pencerahan bagaimana untuk mempersiapkan guru yang dibutuhkan
oleh beragam budaya yang ada.
Tujuan : Membantu mempersiapkan guru yang
sesuai untuk sekolah multikultural atau sekolah dengan beragam budaya, sehingga
masyarakat secara historis terlayani oleh sekolah-sekolah tersebut.
Metode Penelitian : 1. Metode Studi Kepustakaan
2. Metode Observasi
Hasil Penelitian : Dalam penelitian ini, inti fokus yang dibahas adalah mempersiapkan guru sebelum memberikan pelayanan pendidikan untuk sekolah multikultural atau sekolah dengan beragam budaya, sehingga masyarakat secara historis terlayani oleh sekolah-sekolah tersebut. Dalam sekolah multicultural dibutuhkan berbagai strategi pendidikan guru sebelum melakukan pelayanan pendidikan termasuk di dalamnya merekrut dan memilih siswa, pengalaman peredaman lintas budaya, kursus pendidikan multicultural, dan restrukturisasi program. Meskipun ada sejumlah penelitian, tapi sangat sedikit yang membahas tentang bagaimana mempersiapkan guru untuk sekolah multikultural.
Pembahasan mengenai bagaimana
mempersiapkan guru untuk sekolah multikultural (beragam budaya) menjadi sangat
penting karena terkait dengan peran guru sebagai pendidik dalam sebuah proses
pendidikan, yang mana sangat diharapkan mampu menjadi jembatan yang bisa mengakomodasi perbedaan-perbedaan seperti
status sosial, etnis, gender dan agama. Dengan demikian dalam masyarakat yang
multikultural akan tercipta kepribadian yang cerdas, bijak dan santun dalam
menghadapi masalah-masalah keberagaman. Paradigma pendidikan multikultural
sangat bermanfaat untuk membangun harmoni sosial di antara keragaman etnik,
ras, agama, budaya dan kebutuhan di antara siswa yang satu dengan yang lainnya.
Adapun dalam penelitian yang dilakukan oleh (Sleeter, 1988)
menyangkut tentang perbedaan pendidikan dari golongan putih dengan golongan
berwarna. Di mana jika dilihat di antara dua golongan tersebut, mahasiswa dari
golongan berwarna cenderung membawa atau mempunyai pengalaman yang lebih kaya
dan perspektif mengajar yang lebih bagus dibandingkan golongan putih. Sehingga
sering terjadi sekat-sekat pemisah di antara kedua golongan tersebut
dikarenakan golongan berwarna cenderung menganggap dirinya lebih baik
dibandingkan dengan golongan putih. Oleh sebab itulah, dibutuhkan guru yang mampu
menjembatani di antara mereka sehingga tidak ada yang merasa lebih rendah dan
direndahkan.
Bahkan dari penelitian tersebut diterangkan, sebagian besar
siswa dari golongan putih enggan berpartisipasi atau enggan bekerja sama dengan
anak-anak dari latar belakang budaya lain, hal ini dikarenakan mereka membawa
latar belakang lintas-budaya yang sangat sedikit pengetahuan dan pengalaman
(Barry & Lechner, 1995; Larke, 1990; hukum & Lane, 1987). Berbeda dari
golongan putih, mahasiswa dari golongan berwarna membawa lebih banyak ragam
pengetahuan dasar untuk pendidikan guru. Mahasiswa dari golongan berwarna
umumnya lebih berkomitmen untuk mengajar dengan kurikulum akademis yang
menantang. Sehingga pendidikan seringkali didominasi oleh golongan berwarna.
Namun
agar tidak terjadi kesenjangan di antara golongan tersebut, perlu adanya
program guru di lingkungan pendidikan. Setidaknya ada dua program yang bisa
diterapkan. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah menyiapkan calon
guru yang banyak dari golongan berwarna untuk mengajar pada golongan putih. Hal
ini tujuannya untuk menjalin kerjasama dan rasa saling membutuhkan di antara
kedua golongan tersebut. Selain itu, dengan program sertifikasi guru bagi calon
guru dari golongan berwarna. Strategi lain yang bisa dilakukan adalah merekrut
dan memilih mereka yang mempunyai pengalaman, pengetahuan diposisi yang
memungkinkan mereka mengajar dengan baik di sekolah dengan ragam budaya,
artinya tidak memihak dari golongan manapun. Martin Haberman (1996).
Dengan
demikian, guru yang mempunyai profesionalisme mengajar dengan baik sangat
dibutuhkan, khususnya mereka yang mampu menyatukan setiab sub-sub kebudayaan
yang sangat beraneka ragam. Karena hakikatnya dari ujung dunia timur sampai
barat terdiri dari jutaan budaya yang berbeda. Sehingga dibutuhkan sebuah media
sebagai pemersatu agar tiap-tiap budaya dapat saling memahami satu sama lain,
sehingga tercipta persatuan dan kesatuan di tengah-tengah heterogenitas
masyarakat. Bahkan dalam pendidikan saat ini, dalam sitem pembelajarannya juga di
masukkan materi tentang masyarakat multicultural yang tujuannya agar siswa
memahami bahwa ada bermacam-macam budaya dengan latar belakang dan sudut
pandang berbeda yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat global.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar